Rahasia Sukses Bos Jepang

“Rahasia Sukses Bos-bos Jepang!!!”
kompas, September 28, 2004.


Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-rekan di Barat.
Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu barang harus ada fungsinya.
Pernah orang Jepang dijuluki les marchands des transistors (pedagang transistor) oleh de
Gaulle.
Namun sekarang mereka bukan hanya juara dunia dalam hi-fi, tetapi juga dalam
microprocessor, mobil, bioindustri dan lain-lain.
Dalam sepuluh tahun terakhir produksi Jepang meningkat dua kali lebih cepat daripada
Amerika Serikat. Apa rahasianya?
Berikut ini kita akan menjenguk orang-orang yang mempunyai andil besar dalam
kemajuan tehnik Jepang.

Mula-mula kita jumpai Akio Morita si pencipta perusahaan Sony. Dia menyukai olahraga
golf, sekaligus menjadi pengagum musikus Beethoven. Saking gandrungnya pada musik
sampai-sampai di lapangan pun dia ingin bermain golf sambil mendengarkan Symphony
kesembilan.
"Saya membutuhkan sebuah alat kecil dengan pengeras suara," kata Akio Morita pada
anak didiknya. Tak lama kemudian terciptalah walkman.
Dia berusia sekitar enampuluhan, kurus, rambutnya putih dan matanya hampir kuning.
Tapi ia nampak seperti umur duapuluh karena semangatnya yang tak kenal lelah.
Rumahnya di daerah kedutaan, di Tokyo. Bertingkat, dengan kebun dan sebuah kolam
renang. Boleh dikata dia seorang boss Jepang yang sudah berorientasi ke Barat. Dia tak
berkeberatan istrinya turut menjamu tamu dalam pakaian Barat. Tetapi, ia tetap menjalani
hidup sederhana dan kekeluargaan menurut tradisi.

Setiap pagi pukul delapan tepat Akio Morita tiba dikantor. Ia selalu mengenakan seragam
yang sama dengan yang dipakai anak buahnya, meskipun jas luarnya buatan Inggris. Ini
untuk menunjukkan semangat demokratis yang menjiwai setiap perusahaan Jepang.
Pada tahun 1947 Akio Morita mendirikan perusahaan Sony; memasarkan transistor yang
pertama, televisi berwarna pertama, dan walkman pertama. Saat ini perusahaan sedang
maju-majunya, ia mengekspor 70% dari produknya. "Pasaran kami adalah seluruh
dunia," katanya.
Kemajuan teknologi Jepang didorong oleh semangat untuk menyegerakan, dengan penuh
kesadaran dan rasa kebanggaan. Tidak sampai dua generasi untuk mewujudkan mukjizat


ini. Sebelumnya, orang Barat mengejek, Jepang hanya bisa membuat sepeda yang
rodanya tidak bisa berputar dan jam-jam yang tidak bisa dipercaya. Karikatur tahun
tigapuluhan pernah menunjukkan gambar seorang pemburu menyandang sepucuk
senapan, yang ketika picunya ditarik maka larasnya menggembung. Capnya: made in
Japan (bikinan Jepang).
Tetapi tiba-tiba orang Jepang tergila-gila pada perlombaan matematika dan fisika. Ujianujian
di berbagai universitas menjadi sangat berat dan terjadi persaingan mati-matian. Ini
menghasilkan orang-orang yang pandai. Di Pusat Penelitian Sony, jejak kaki para
direktur yang sukses dicetakkan di atas tanah, seperti halnya jejak kaki para bintang
Hollywood di studio MGM.
Saingan istrinya sebuah komputer
Sama dengan majikannya, Makoto Kikuchi direktur baru pada Pusat Penelitian Sony ini
bisa berbahasa Inggris, dengan tujuan dapat berbicara dengan robotnya; sebuah "Apple" Amerika.
"Masih yang terbaik untuk saat ini," ucapnya jujur. Laki-laki berusia 45 tahun ini
sebelumnya sudah sangat terkenal di Jepang sebagai ilmuwan yang paling mengagumkan
dari Pusat Penelitian Negara. Ia mengkhususkan diri dalam microprocessor. Ia pindah ke
Sony enam tahun yang lalu.

Dalam sebuah rumah yang amat kecil berbentuk bujur sangkar dan terbuat dari kertas
minyak itulah ia tinggal bersama istrinya dan hidup dengan sederhana. Dengan
kimononya dan berlutut di atas tikar Jepang, istrinya dengan setia menemani suaminya
bermain dengan komputer.
Mottonya: Research Makes The Difference, menggambarkan keambisiusan Makoto
Kikuchi. Motto ini ditulis pada truk-truk perusahaan dalam bahasa Inggris supaya
menimbulkan kesan eksotis.
Ia punya rencana untuk beberapa tahun mendatang: membuat komputer yang bisa
menguraikan bahasa percakapan orang Jepang supaya setiap orang Jepang dapat berbicara dengan komputer.
Dengan senang hati, dia mengundang 190 penyelidik datang ke pusat penelitiannya. Kata
Makoto: "Sony memberikan 3,5 sampai 5% penghasilannya untuk penelitian."
Tambahnya: "Sebelum ini saya bekerja di sebuah laboratorium di Amerika Serikat. Di
Sony, cukup hanya satu jam bagi saya untuk memperoleh sebuah alat yang harganya
setengah juta dolar. Saya lalu bisa menghargai perbedaan ini." Ia tetap seorang Jepang
Tulen meskipun lama tinggal di Amerika Serikat.
Para peneliti Sony mempelajari sinar energi matahari, teknologi silikon dan lainnya.
Tetapi bidang yang paling disukainya adalah semiconductor. Dia memulai segalanya dari
nol pada tahun 1976.


Di perusahaan Sony, kaitan penelitian produksi dengan pemasaran merupakan satu
keharusan yang permanen. Contohnya, setiap Minggu pagi Makoto sarapan bersama
Akio Morita dan Direktur Marketingnya. Hubungan yang begitu wajar dan akrab antara
peneliti dan pemimpin ini jarang sekali terjadi di Amerika maupun di Eropa.
Morita yang sudah begitu kebarat-baratan, yang kalau bermain golf memakai kemeja dan
topi Amerika, tetap membungkukkan badan sampai ke tanah bila berjumpa dengan
kawan. Dalam mobil ia memiliki telepon, televisi dan magnetoskop; tetapi ia tetap
mengenakan seragam yang sama seperti 35.000 anggota Sony.
Honda tidak memberi warisan kepada anak.
Soichiro, 78 tahun, adalah pendiri Honda Motor. Ia juga mengenakan seragam karyawan
biasa di perusahaan, kemeja dan topi putih. Dia lebih suka bekerja di bengkel, meskipun
tersedia ruangan di setiap perusahaannya. Sebelum pecah perang, ia pernah menjadi
montir biasa.
Sedikit demi sedikit ia turut meletakkan dasar perusahaan. Sekarang ia mengepalai
23.000 buruh dan membawahi 43 perusahaan di 28 negara (enam ada di Jepang).
Anak buahnya diberi kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi atas apa yang
dihasilkannya. Soichiro tidak memiliki harta pribadi. Dia tinggal dalam sebuah rumah sederhana.
Kegemarannya melukis diatas kain sutra dan bermain golf. Barangnya yang berharga
cuma sebuah helikopter dan mobil biasa. Penghasilannya dipakai untuk penelitian dan
bea siswa kaum muda. Dia bahkan tak memberi warisan kepada anak-anaknya.
"Warisan paling berharga yang dapat saya berikan adalah membiarkan mereka sanggup
berusaha sendiri," katanya.
Hadiah untuk gagasan yang paling baik.
Kyoto Ceramics adalah salah satu pabrik pembuat microchips (elemen-elemen kecil
komputer) yang paling kuat di dunia.
Omset Kyoto Ceramics 400 juta dolar dan menghasilkan keuntungan luar biasa, 12%
setelah dipotong pajak.

Ada tujuh buah perusahaan di Amerika Serikat dan tiga di Jepang. Inamori sang
pemimpin, seperti juga Soichiro Honda dan Kaku pemimpin Canon, menganggap dirinya
sebagai karyawan biasa. Selisih gaji direktur dan buruh baru di Jepang lebih kecil bila
dibandingkan dengan di Eropa dan Amerika Serikat.


Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-rekan di Barat.
Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu barang harus ada fungsinya.
Bagaimana mereka bisa memegang prinsip sebaik itu?
Mari kita menengok ke Gamo, salah satu pabrik keramik di Kyoto. Kurang lebih 50
kilometer dari Kyoto. Di sini pada pukul delapan pagi seluruh karyawan Gamo
berkumpul dalam ruang-ruang besar. Dari tiap ruang, diatas sebuah panggung seorang
laki-laki meneriakkan: berdiri, bersiap, luruskan kaki dan istirahat. Ratusan laki-laki dan
perempuan dalam seragam biru berdiri siap. Laki-laki lalu melaporkan hasil pekerjaan
bulan lalu dan menambahkan delapan pesan produksi, tentang mutu, penurunan ongkos
dan sebagainya.

Selesai laporan, dia memanggil lima orang maju ke depan. Mereka diberi hadiah, karena
telah menyumbangkan gagasan yang paling baik, pada bulan sebelumnya. Di semua
perusahaan Jepang, para insinyur dan buruh diundang menyumbangkan gagasan untuk
lebih memajukan produktivitas, keamanan dan semua bidang yang berkaitan dengan
kehidupan perusahaan.
Di Canon, setahun yang lalu, masuk sekitar 146.242 gagasan yang ternyata dapat
menghemat lebih dari tujuh juta yen!
Sebulan sekali mereka berkumpul, memberi laporan pekerjaan selama ini, bertukar
pengalaman dan mutu pekerjaan mereka.
Hadiah bagi gagasan mereka yang terpilih antara lain medali, jam tangan, tiket kereta
atau pesawat terbang. Yang kurang berinisiatif tak akan mendapat apa-apa. Tak pernah
terjadi seseorang mendapat sanksi negatif.
Setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan. Benar-benar merupakan
perwujudan demokrasi yang didasarkan pada penghargaan hasil kerja dan atas
hierarkinya. Di Jepang, persaingan ditumbuhkan sejak kanak-kanak. Keluaran sekolah
bereputasi tinggi lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang baik.
Di tiap perusahaan ada serikat buruh, yang setiap tahunnya mengorganisir pemogokan
untuk memperoleh kenaikan gaji yang disebut Shunto. Tetapi Shunto ini cuma suatu
upacara tradisi, bukan pemogokan seperti layaknya di Barat.
Robot membuat robot Di kaki Gunung Fuji ada robot membuat robot. Robot-robot itu bekerja dengan diamdiam.
Beberapa manusia membaca lembaran kertas besar yang keluar dari terminal robot.


Di Honda Motor Cie, di sebuah dusun dekat Tokyo, kita bisa melihat mobil yang diassembling
oleh robot, yang mematri 160 kali setiap detiknya. Grup-grup yang terdiri dari lima atau enam buruh memeriksa hasil kerja robot. Setiap buruh diizinkan menghentikan pekerjaan dengan cara menekan tombol merah, bila ada yang kurang beres.

Hasilnya: pada produksi akhir hanya ada 0,1% yang apkir, dibanding dengan 20% di Eropa. Di Sony, semua karyawannya teliti. Para majikan di Eropa memimpikan pabrik mereka bisa menyamai Jepang, dan mendambakan buruh-buruh yang serupa pula. Di perusahaan Canon, Tuan Kaku yang adalah presiden direkturnya itu dan para buruhnya, saling menundukkan kepala mereka sama dalamnya. Percakapan antara mereka bisa membuat heran telinga-telinga Perancis.

Tuan Kaku menjelaskan secara mendetil target keuangan dan tehnik yang ingin dicapai perusahaan. Kepala serikat buruh Canon meyakinkan majikannya, keberhasilan Canon merupakan satu kepuasan bagi seluruh karyawan dan mereka ingin bekerja sama sepenuhnya bersama direksi. Majikan-majikan Eropa sangat kagum melihat modernisasi Jepang. Kagum bukan hanya karena melihat sindikat-sindikat buruh dapat bekerja sama begitu baik dangan majikannya, tetapi juga melihat para majikan yang tak pernah memecat buruhnya itu.

Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan pengangguran, dan setiap buruh mau dan dapat memahami apa pun yang mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya perusahaan. Yang nampak di depan mereka
adalah sebuah dunia, di mana disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat pada setiap individu. Inilah rahasia kemajuan Jepang.
(Paris Match/Intisari).

Sumber: ebooks-gratis.cjb.net
Tag : Artikel
0 Komentar untuk "Rahasia Sukses Bos Jepang"
Back To Top